Kamis, 22 Desember 2011

MEMPERBAIKI DIRI SEBELUM MEMPERBAIKI SISTEM

DI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting  dalam  usaha perbaikan   (ishlah)   ialah   memberikan  perhatian  terhadap pembinaan  individu   sebelum   membangun   masyarakat;   atau memperbaiki  diri  sebelum  memperbaiki  sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah  apabila  kita  mempergunakan  istilah yang  dipakai  oleh  al-Qur'an yang berkaitan dengan perbaikan diri ini; yaitu:

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada diri mereka sendiri..." (ar-Ra'd: 11)

Inilah  sebenarnya  yang  menjadi  dasar  bagi  setiap   usaha perbaikan,  perubahan,  dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi  fondasi  bangunan  secara menyeluruh.  Karena  kita tidak bisa berharap untuk mendirikan sebuah  bangunan  yang  selamat  dan  kokoh  kalau   batu-batu fondasinya keropos dan rusak.

Individu   manusia   merupakan  batu  pertama  dalam  bangunan masyarakat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang diupayakan untuk membentuk  manusia  Muslim yang benar dan mendidiknya --dengan pendidikan Islam yang sempurna-- harus diberi  prioritas  atas usaha-usaha  yang  lain. Karena sesungguhnya usaha pembentukan manusia Muslim yang sejati sangat diperlukan bagi segala macam pembinaan  dan  perbaikan.  Itulah  pembinaan  yang  berkaitan dengan diri manusia.

Sesungguhnya pembinaan manusia secara individual untuk menjadi manusia yang salih merupakan tuga utama para nabi Allah, tugas para khalifah pengganti nabi, dan para pewaris setelah mereka.

Pertama-tama yang harus dibina dalam diri manusia ialah  iman. Yaitu  menanamkan  aqidah  yang  benar  di dalam hatinya, yang meluruskan pandangannya terhadap  dunia,  manusia,  kehidupan, dan  tuhan  alam semesta, Pencipta manusia, pemberi kehidupan. Aqidah  yang  mengenalkan  kepada  manusia  mengenai  prinsip, perjalanan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Aqidah yang dapat menjawab pelbagai pertanyaan yang  sangat  membingungkan  bagi orang  yang  tidak  beragama:  "Siapa  saya? Dari manakah saya berasal? Akan kemanakah perjalan hidup saya? Mengapa saya  ada di  dunia  ini?  Apakah  arti hidup dan mati? Apa yang terjadi sebelum adanya kehidupan? Dan apakah yang akan terjadi setelah kematian? Apakah misi saya di atas planet ini sejak saya masih di alam konsepsi hingga saya meninggal dunia?

Iman  --bukan  yang  lain--  adalah  yang  memberikan  jawaban memuaskan  bagi  manusia  terhadap pertanyaan-pertanyaan besar berkaitan dengan perjalanan hidup manusia itu.  Ia  memberikan tujuan,  muatan makna, dan nilai bagi kehidupannya. Tanpa iman manusia akan menjadi debu-debu halus yang  tidak  berharga  di alam wujud ini, dan sama sekali tidak bernilai jika dihadapkan kepada kumpulan benda di alam semesta yang sangat besar.  Umur manusia   tidak   ada  apa-apanya  kalau  dibandingkan  dengan perjalanan geologis yang berkesinambungan pada  alam  semesta, dan  yang  akan  terus  berlangsung  dan  tidak akan berakhir. Kekuatan Manusia tidak akan ada apa-apanya kalau  dibandingkan dengan  pelbagai  kejadian  di  alam  semesta  yang  mengancam keselamatannya; seperti: gempa  bumi,  gunung  meletus,  angin ribut,  banjir,  yang  merusak  dan  membunuh  manusia. Ketika berhadapan dengan  pelbagai  peristiwa  alamiah  itu,  manusia tidak  dapat  berbuat  apa-apa,  walaupun  dia  mempunyai ilmu pengetahuan, kemauan, dan teknologi canggih.

Selamanya, iman merupakan  pembawa  keselamatan.  Dengan  iman kita  dapat  mengubah  jati diri manusia, dan memperbaiki segi batiniahnya. Kita tidak dapat menggiring manusia seperti  kita menggiring  binatang ternak; dan kita tidak dapat membentuknya sebagaimana kita membentuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari besi, perak atau bijih tambang yang lainnya.

Manusia  harus  digerakkan  melalui akal dan hatinya. Ia harus diberi kepuasan sehingga  dapat  merasakan  kepuasan  itu.  Ia harus  diberi petunjuk agar dapat meniti jalan yang lurus; dan ia harus digembirakan dan diberi peringatan,  agar  dia  dapat bergembira dan merasa takut dengan adanya peringatan tersebut. Imanlah  yang  menggerakkan  dan  mengarahkan  manusia,  serta melahirkan  berbagai  kekuatan  yang  dahsyat  dalam  dirinya. Manusia tidak akan  memperoleh  kejayaan  tanpa  iman.  Karena sesungguhnya  iman  membuatnya  menjadi  makhluk  baru, dengan semangat yang baru, akal baru,  kehendak  baru,  dan  filsafat hidup  yang  juga  baru. Sebagaimana yang kita saksikan ketika para ahli sihir Fir'aun beriman kepada  Tuhan  nabi  Musa  dan Harun.  Mereka  menentang kesewenangan Fir'aun, sambil berkata kepadanya dengan penuh ketegasan dan kewibawaan:

"... maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja... (Taha: 72)

Kita juga dapat  melihat  para  sahabat  Rasulullah  saw  yang keimanan  mereka  telah memindahkan kehidupan Jahiliyah mereka kepada  kehidupan  Islam;  dari   penyembahan   berhala,   dan penggembalaan  kambing  kepada  pembinaan  umat  dan  menuntun manusia kepada petunjuk Allah SWT, serta  mengeluarkan  mereka dari kegelapan kepada cahaya.

Selama  tiga  belas  tahun  di  Makkah  al-Mukarramah, seluruh perhatian dan kerja-kerja Nabi saw  --yang  berbentuk  tabligh dan  da'wah--  ditumpukan  kepada  pembinaan  generasi pertama berdasarkan keimanan.

Pada  tahun-tahun  itu  belum  turun  penetapan  syariah  yang mengatur  kehidupan  masyarakat,  menetapkan hubungan keluarga dan hubungan sosial, serta menetapkan  sanksi  terhadap  orang yang   menyimpang  dari  undang-undang  tersebut.  Kerja  yang dilakukan oleh al-Qur'an dan  Rasulullah  saw  adalah  membina manusia  dan  generasi  sahabat  Rasulullah  saw, mendidik dan membentuk mereka, agar mereka dapat menjadi pendidik di  dunia ini setelah kepergian baginda Rasul.

Dahulu,  rumah  Al-Arqam  bin  Abi  al-Arqam memainkan peranan untuk itu. Kitab suci Allah SWT  diturunkan  kepada  Rasul-Nya sedikit  demi  sedikit sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi pada saat itu; agar dia membacakannya  kepada  manusia  secara perlahan-lahan,  untuk  memantapkan keyakinan hati mereka, dan orang-orang yang beriman kepadanya. Nabi saw menjawab berbagai pertanyaan  orang  musyrik  pada  waktu  itu dengan mematahkan hujah-hujah mereka, sehingga hal  ini  sangat  besar  perannya dalam  membina  kelompok  orang-orang beriman, memperbaiki dan mengarahkan perjalanan hidup mereka. Allah SWT berfirman:

"Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (al-Isra,: 106)

"Berkatalah orang-orang kafir: "Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?" Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (al-Furqan: 32-33)

Tugas terpenting yang mesti kita lakukan pada hari ini apabila kita  hendak  melakukan  perbaikan  terhadap keadaan umat kita ialah melakukan permulaan yang tepat,  yaitu  membina  manusia dengan  pembinaan  yang  hakiki  dan  bukan hanya dalam bentuk luarnya  saja.  Kita  harus  membina  akal,  ruh,  tubuh,  dan perilakunya  secara  seimbang.  Kita  membina  akalnya  dengan pendidikan; membina ruhnya dengan ibadah;  membina  jasmaninya dengan  olahraga;  dan  membina perilakunya dengan sifat-sifat yang mulia. Kita dapat membina kemiliteran  melalui  disiplin; membina  kemasyarakatannya  melalui  kerja sama; membina dunia politiknya dengan penyadaran. Kita harus  mempersiapkan  agama dan  dunianya secara bersama-sama agar ia menjadi manusia yang baik,  dan  dapat  mempengaruhi  orang  untuk  berbuat   baik, sehingga  dia  terhindar  dari  kerugian di dunia dan akhirat; sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran." (al-'Ashr: 1-3)

Usaha itu tidak dapat dilakukan dengan  baik  kecuali  melalui pandangan  yang menyeluruh terhadap wujud ini, dan juga dengan filsafat hidup yang jelas,  proyek  peradaban  yang  sempurna, yang  dipercayai  oleh  umat, sehingga ia mendidik anak lelaki dan perempuannya dengan penuh keyakinan, bekerja sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dan berjalan pada jalur yang telah digariskan. Bagaimanapun, semua institusi yang  ada  di  dalam umat  (masjid  dan universitas, buku dan surat kabar, televisi dan radio) mesti melakukan  kerja  sama  yang  baik,  sehingga tidak  ada  satu  institusi yang naik sementara institusi yang lainnya tenggelam, atau ada satu perangkat yang  dibangun  dan pada  saat yang sama perangkat lainnya dihancurkan. Pernyataan di atas dibenarkan oleh ucapan penyair terdahulu:

"Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan; Apabila engkau membangunnya dan orang lain menghancurkannya?"

PRIORITAS MAKSUD DAN TUJUAN ATAS PENAMPILAN LUAR


DI ANTARA persoalan yang termasuk di dalam fiqh prioritas  ini ialah  tujuan. Yakni menyelami pelbagai tujuan yang terkandung di  dalam  syari'ah,  mengetahi  rahasia  dan   sebabsebabnya, mengaitkan   antara   satu   sebab  dengan  sebab  yang  lain, mengembalikan cabang kepada  pokoknya,  mengembalikan  hal-hal yang parsial kepada yang universal, dan tidak menganggap cukup mengetahui penampakan dari luar, serta jumud di dalam memahami nash-nash syari'ah tersebut.

Sebagaimana  diketahui,  dari  nash  yang bermacam-macam, yang berasal dari al-Qur'an dan Sunnah,  seperti  yang  ditunjukkan oleh  penelitian  hukum  yang  parsial  dalam  berbagai bentuk peribadahan dan muamalah, hubungan antara  keluarga,  hubungan sosial,  politik,  dan  hubungan internasional, bahwa syari'ah ini memiliki berbagai tujuan yang terkandung pada  setiap  hal yang   disyari'ahkan  olehnya,  baik  berupa  perintah  maupun larangan; ataupun berupa hukum yang  mubah.  Agama  ini  tidak mensyari'ahkan  sesuatu  dengan  sewenang-wenang,  tetapi  dia dalam syari'ah yang dibuatnya terkandung  hikmah  yang  sesuai dengan  kesempurnaan  Allah  SWT,  ilmu-Nya,  rahmat-Nya,  dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Di antara nama-Nya yang mulia ialah  "Maha  Mengetahui  dan  Maha Bijaksana". Allah SWT Maha Bijaksana dengan apa yang disyari'ahkan dan  Dia  perintahkan. Dia  juga  Maha  bijaksana dalam hal yang berkaitan dengan apa yang  Dia  ciptakan   kemudian   Dia   menetapkan   ukurannya. Kebijaksanaan-Nya  tampak pada dunia perintah-Nya, sebagaimana tampak juga di dalam dunia penciptaan. Allah SWT berfirman:

"... Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah..." (al A'raf: 54)

Karena Dia tidak pernah menciptakan  sesuatu  dengan  sia-sia, maka juga tidak pernah menetapkan syari'ah yang kaku dan tidak berguna.

Orang-orang yang bijak berkata  tentang  apa  yang  diciptakan oleh Tuhan

"... Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali 'Imran: 151)

Kita juga dapat mengatakan, "Wahai  Tuhan  kami,  sesungguhnya Engkau  tidak  menetapkan  syari'ah  ini kecuali dengan hikmah yang terkandung di dalamnya."

Kekeliruan yang sering kali dilakukan  oleh  orang-orang  yang menggeluti  ilmu  agama  ini  ialah  bahwasanya  mereka  hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke  dasarnya, karena  mereka  tidak  memiliki  keahlian  dalam  berenang dan menyelam  ke  dasarnya,  untuk  mengambil  mutiara  dan   batu mulianya.  Mereka  hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari  rahasia  dan  tujuan yang sebenarnya. Mereka dilalaikan oleh perkara-perkara cabang saja dan bukan perkara-perkara yang utama. Mereka  menampilkan agama  Allah, dan hukum-hukum syari'ahnya atas hamba-hamba-Nya dalam bentuk yang bermacam-macam, dan tidak menampilkan  dalam bentuknya  yang  universal.  Bentuk-bentuk itu tidak dikaitkan dengan satu sebab yang menyatukannya, sehingga syari'ah  agama Allah  hanya  tampak seperti yang diucapkan oleh lidah mereka, dan yang ditulis oleh pena mereka. Syari'ah seakan-akan  tidak mampu  mewujudkan  kemaslahatan  bagi  makhluk  Allah, padahal kegagalan itu sebenarnya  bukan  pada  syari'ah,  tetapi  pada pemahaman  mereka  yang memutuskan keterkaitan antara sebagian hukum dengan sebagian yang  lain.  Mereka  tidak  peduli  bila tindakan  mereka  memisahkan  antara  hal-hal  yang sama, atau menyamakan hal-hal yang sebetulnya berbeda;  padahal  hal  itu sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh syari'ah.

Seringkali penyimpangan pada hal-hal yang lahiriah seperti ini mempersempit apa yang sebenarnya telah diluaskan  oleh  Allah, mempersulit  hal-hal  yang  dipermudah  oleh syari'ah, membuat stagnasi persoalan yang sepatutnya dapat  dikembangkan,  serta mengikat   hal-hal   yang   seharusnya  dapat  diperbarui  dan kembangkan.





PRIORITAS IJTIHAD ATAS TAQLID


<< Kembali ke Daftar Isi >>


PEMBAHASAN  mengenai  prioritas  ijtihad  dan  pembaruan  atas pengulang-ulangan  dan  taqlid,  berkaitan  erat  dengan  fiqh maksud dan tujuan syari'ah seperti yang telah  kami  bahas  di muka,  serta  berkaitan  pula  dengan  masalah  pemahaman  dan hafalan.

Ilmu,  menurut  para  ulama  salaf  umat  ini,  bukan  sekadar pengetahuan  tentang  hukum,  walaupun  diperoleh  dari  hasil taqlid kepada orang lain  atau  mengutip  perkataannya  dengan tidak  memiliki  hujjah  yang memuaskan. Dengan kata lain, dia mengetahui kebenaran melalu orang lain, dan mengikuti pendapat orang banyak yang tidak berdalil.

Ilmu,  menurut mereka sekali lagi, ialah ilmu yang independen, yang disertai dengan hujjah, dan tidak perduli apakah ilmu ini disepakati oleh Zaid atau Amr. Ilmu ini tetap berjalan bersama dengan dalilnya ke manapun  ia  pergi.  Dia  berputar  bersama kebenaran yang memuaskan di manapun berada.

Ibn  al-Qayyim  mengemukakan  hujjah berkenaan dengan larangan dan celaan melakukan taqlid berdasarkan firman Allah SWT:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyei pengetahuan tentangnya..." (al-Isra': 36)

Dia berkata, "Taqlid itu bukanlah pengetahuan yang  disepakati oleh ahli ilmu pengetahuan itu." Dalam I'lam al-Muwaqqi'in, ia menyebutkan lebih dari delapan puluh macam taqlid  yang  tidak benar,  dan  penolakannya terhadap syubhat yang dilakukan oleh para pelakunya."19

Kalau  kejumudan  pada   lahiriah   nash   dianggap   tercela, sebagaimana  yang  dilakukan  oleh  pengikut mazhab Zhahiriyah lama dan baru,  maka  celaan  juga  patut  dikenakan  terhadap kejumudan   terhadap   apa  yang  dikatakan  oleh  para  tokoh terdahulu, tanpa mempedulikan perkembangan yang terjadi antara zaman  kita  dan  zaman  mereka,  keperluan kita dan keperluan mereka, pengetahuann kita dan pengetahuan mereka.  Saya  kira, kalau  mereka  sempat  hidup  pada  zaman  kita  sekarang  ini sehingga mereka dapat melihat  apa  yang  kita  lihat,  mereka hidup  seperti  kita  hidup  sekarang ini --pada posisi mereka sebagai orang yang mampu melakukan  ijtihad  dan  berpandangan luas--  maka  mereka  akan  banyak  mengubah  fatwa  dan hasil ijtihad yang telah mereka lakukan.

Bagaimana tidak? Sahabat-sahabat mereka, yang  datang  sesudah periode   mereka   banyak  yang  telah  melakukan  pengubahan, dikarenakan terjadinya perbedaan waktu dan zamannya,  walaupun sebenarnya  jarak  waktu  antara kelompok pertama dan kelompok yang kedua tidak begitu jauh. Bagaimana tidak, para imam  ahli ijtihad  itu sendiri telah banyak melakukan perubahan terhadap pendapat mereka ketika mereka masih  hidup,  karena  mengikuti perubahan  ijtihad  yang baru mereka lakukan, bisa jadi karena pengaruh umur, kematangan, zaman, atau tempat mereka melakukan ijtihad?

Imam  Syafi'i  r.a.  sebelum  pindah  dan menetap di Mesir dia telah  mempunyai  mazhab  yang  dikenal  dengan  "Qaul  qadim" (pendapat  lama);  kemudian  setelah dia menetap di Mesir, dia mempunyai  mazhab  baru  yang  dikenal  dengan  "Qaul   jadid" (pendapat  baru).  Hal ini terjadi karena dia baru melihat apa yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan dia baru mendengar apa yang belum dia dengar sebelum itu.

Imam  Ahmad  juga  meriwayatkan  bahwa  dalam satu masalah dia mengeluarkan pandangan yang berbeda-beda. Hal ini  tidak  lain karena  sesungguhnya  fatwanya  dikeluarkan  pada  situasi dan kondisi yang berbeda.

Catatan Kaki:

19 Lihat I'lam al-Muwaqqi'in, juz 2, h. 168-260, cet. Al-Sa'adah Mesir, yang ditahqiq oleh Muhammad Muhyiddin Abd al-Hamid. ^



:: bookmark: pakdenono ::





PRIORITAS STUDI DAN PERENCANAAN PADA URUSAN DUNIA


<< Kembali ke Daftar Isi >>
KALAU kita pernah mengatakan tentang pentingnya ilmu atas amal dalam berbagai urusan agama, maka kita sekarang ini menegaskan mengenai pentingnya ilmu dalam urusan-urusan dunia.

Kita  hidup  sekarang  ini  pada  zaman  yang  segala  sesuatu didasarkan atas ilmu pengetahuan. Pada zaman kita sekarang ini sudah tidak lagi  menerima  hal-hal  yang  tidak  teratur  dan mengawur  dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia.

Semua  pekerjaan  yang  baik  mesti  didahului  dengan   studi kelayakan  terlebih  dahulu, dan harus dipastikan menghasilkan sesuatu yang memuaskan sebelum  pekerjaan  itu  dimulai.  Oleh karena  itu,  mesti  ada perencanaan sebelum melakukannya, dan harus diperhitungkan secara matematis dan  dilakukan  berbagai penelitian sebelum pekerjaan itu dilakukan.

Dalam   buku   dan   kajian-kajian   yang   lain  saya  pernah menyebutkan: "Sesungguhnya penelitian, perencanaan, dan  studi kelayakan sebelum kerja dilaksanakan merupakan etos kerja yang telah ada pada Islam. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali   melakukan   perhitungan   secara   statistik   terhadap orang-orang yang beriman kepadanya setelah  dia  berhijrah  ke Madinah  al-Munawwarah.  Dan kesan dari perencanaan itu begitu terasa   pada   perjalanan   hidup   beliau   dalam   berbagai bentuknya.20

Seharusnya orang yang paling dahulu melakukan perencanaan hari esok mereka ialah para aktivis gerakan Islam, sehingga  mereka tidak   membiarkan   semua   urusan   mereka   berjalan  tanpa perencanaan; tanpa memanfaatkan pengalaman di masa yang  lalu; tanpa  mencermati  realitas  yang terjadi pada hari ini; tanpa menimbang benar dan salahnya ijtihad  yang  pernah  dilakukan; tanpa  menilai untung-ruginya perjalanan umat kemarin dan hari ini;  tanpa  memiliki  pengetahuan  yang   mendalam   mengenai kemampuan  dan  fasilitas  yang  dimiliki oleh umat, baik yang berbentuk material maupun  spiritual,  yang  tampak  dan  yang tidak   tampak,  yang  produktif  dan  yang  tidak  produktif. Perencanaan yang mereka buat itu  mesti  memperhatikan  sumber kekuatan  dan  titik-titik  kelemahan  yang dimiliki oleh umat kita dan musuh-musuh kita; kemudian siapakah sebenarnya  musuh kita  yang  hakiki?  Siapakah  musuh kita yang abadi dan musuh yang insidental? Siapakah di antara mereka yang mungkin  dapat kita manfaatkan dan siapa yang tidak dapat dimanfaatkan? Siapa yang dapat kita ajak berdiskusi dan siapa  yang  tidak?  Semua musuh   harus   kita   pandang  secara  berbeda,  karena  pada hakikatnya mereka juga berbeda-beda.

Semua persoalan di atas tidak dapat diketahui  kecuali  dengan ilmu  pengetahuan  dan  kajian yang objektif, yang sama sekali tidak emosional,  bebas  dari  pelbagai  pengaruh  individual, lingkungan dan waktu sejauh yang dapat dilakukan oleh manusia; karena sesungguhnya  kebebasan  yang  bersifat  mutlak  hampir dapat dikatakan mustahil.

PRIORITAS PEMAHAMAN ATAS HAFALAN


ADA baiknya saya mengingatkan di sini --ketika kita  berbicara tentang  prioritas  pengetahuan  atas  amal perbuatan-- kepada sesuatu yang penting, yang juga termasuk di dalam perbincangan kita  mengenai  fiqh prioritas. Yaitu prioritas pemahaman atas penguasaan yang sekadar hafalan. Ilmu yang hakiki  ialah  ilmu yang betul-betul kita fahami dan kita cerna dalam otak kita.

Itulah  yang sebenarnya diinginkan oleh Islam dari kita; yaitu pemahaman terhadap ajaran agama,  dan  bukan  sekadar  belajar agama; sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT:

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (at-Taubah: 122)

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan,

"Barangsiapa dihendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman tentang agamanya."15

Fiqh merupakan sesuatu yang lebih  dalam  dan  lebih  spesifik dibandingkan  dengan  ilmu  pengetahuan. Sesungguhnya fiqh itu mencakup pemahaman, dan juga  pemahaman  yang  mendalam.  Oleh karena  itu, Allah SWT menafikannya dari orang-orang kafir dan orang-orang  munafik,  ketika  Dia  memberikan  sifat   kepada mereka:

"...  disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (al-Anfal 65)

Dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan  oleh  Muslim dikatakan,

"Manusia itu bagaikan barang tambang, seperti layaknya tambang emas dan perak. Orang yang baik pada zaman jahiliyah adalah orang yang baik pada zaman Islam apabila mereka memiliki pemahaman yang baik."

Dalam hadis Abu Musa yang dimuat di dalam Shahihain dikatakan,

"Perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seperti hujan lebat yang menyirami tanah. Di antara tanah itu ada yang gembur yang bisa menerima air, kemudian menumbahkan rerumputan yang lebat. Kemudian ada pula tanah cadas yang dapat menghimpun air sehingga airnya dapat dimanfantkan oleh manusia. Mereka minum, memberi minum kepada binatang ternak, dan bercocok tanam dengannya. Tetapi ada juga tanah yang sangat cadas dan tidak dapat menerima air, tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah perumpamaan orang yang memahami ajaran agama Allah dan memanfaatkan ajaran yang aku diutus untuk menyampaikannya. Dia memahami kemudian mengajarkannya. Dan begitulah orang yang tidak mau mengangkat kepalanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.'16

Hadits ini mengumpamakan apa yang  dibawa  oleh  Nabi,  berupa petunjuk   dan   ilmu  pengetahuan,  laksana  air  hujan  yang menghidupkan  tanah  yang  mati,  bagaikan  ilmu  agama   yang menghidupkan  hati yang telah mati. Orang yang menerima ajaran agama itupun bermacam-macam, seperti beraneka  ragamnya  tanah yang  menerima  air  hujan. Tingkatan orang yang paling tinggi ialah orang yang memahami ilmu  pengetahuan,  memanfaatkannya, kemudian  mengajarkannya.  Ia  bagaikan  tanah  yang subur dan bersih, yang airnya dapat diminum, serta menumbuhkan  berbagai macam  tanaman  di  atasnya. Tingkatan yang berada di bawahnya ialah orang yang mempunyai hati yang dapat  menyimpan,  tetapi dia tidak mempunyai pemahaman yang baik dan mendalam pada akal pikiran mereka, sehingga dia dapat  membuat  kesimpulan  hukum yang  dapat  dimanfaatkan  oleh  orang  lain...  Mereka adalah orang-orang  yang  hafal,  dan  bila  ada  orang  yang  datang memerlukan  ilmu  pengetahuan yang dimilikinya, maka dia dapat memberikan manfaat hafalan itu kepadanya. Orang-orang  seperti inilah   yang  dapat  dimanfaatkan  ilmu  pengetahuan  mereka. Kelompok orang seperti ini  diumpamakan  seperti  tanah  cadas yang  mampu  menampung air, sehingga datang orang yang meminum airnya, atau memberi minum  kepada  binatang  ternaknya,  atau menyirami  tanaman  mereka.  Itulah  yang  diisyaratkan  dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:

"Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya."17

Sedangkan  kelompok  ketiga  ialah  orang-orang   yang   tidak memiliki  pemahaman dan juga tidak ahli menghafal, tidak punya ilmu dan tidak punya amal. Mereka bagaikan  tanah  cadas  yang tidak  dapat  menampung  air dan tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain.18

Hadits tersebut menunjukkan bahwa manusia yang  paling  tinggi derajatnya  di sisi Allah dan rasul-Nya ialah orang-orang yang memahami dan mengerti, disusul dengan  orang  yang  menghafal. Disitulah  letak  kelebihan  orang  yang faham atas orang yang menghafal; dan letak kelebihan fuqaha atas para huffazh. Dalam qurun  yang  terbaik bagi manusia --yaitu tiga abad pertama di dalam Islam-- kedudukan dan kepeloporan berada di tangan  para faqih,  sedangkan  pada  masa-masa  kemunduran,  kedudukan dan kepeloporan itu ada para hafizh.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa hafalan sama  sekali  tidak mempunyai  arti  dan  nilai,  serta ingatan yang dimiliki oleh manusia itu tidak ada gunanya. Tidak, ini  tidak  benar.  Saya hanya ingin mengatakan: "Sesungguhnya hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai yang lainnya. Kesalahan yang  banyak  dilakukan oleh kaum Muslimin ialah perhatian mereka kepada hafalan lebih tinggi daripada pemahaman, dan memberikan  hak  dan  kemampuan yang lebih besar kepadanya.

Oleh  karena  itu,  kita  menemukan  penghormatan  yang sangat berlebihan diberikan kepada para  penghafal  al-Qur'an,  tanpa mengurangi  rasa  hormat saya kepada mereka. Sehingga berbagai perlombaan untuk itu seringkali dilakukan di berbagai  negara, yang  menjanjikan  hadiah  yang  sangat besar nilainya; hingga mencapai puluhan ribu dolar untuk seorang pemenang. Ini  perlu kita hargai dan kita syukuri.

Akan  tetapi,  sangat  disayangkan  hadiah  seperti  itu, atau setengahnya,  bahkan  seperempatnya,  tidak  diberikan  kepada orang-orang yang mencapai prestasi gemilang di dalam ilmu-ilmu syariah yang lainnya; seperti ilmu tafsir, ilmu hadits,  fiqh, usul  fiqh,  aqidah, dan da'wah; padahal keperluan umat kepada orang-orang seperti ini lebih banyak, di samping  itu  manfaat yang diperoleh dari mereka juga lebih besar.

Di   antara   persoalan  yang  sangat  memalukan  dalam  dunia pendidikan  di  negara  kita  ialah   bahwa   pendidikan   itu kebanyakan  didasarkan  kepada  hafalan  dan "kebisuan", serta tidak didasarkan kepada pemahaman dan pencernaan. Oleh  karena itu,  kebanyakan  pelajar  lupa  apa  yang telah dipelajarinya setelah dia menempuh ujian. Kalau  apa  yang  mereka  pelajari didasarkan  atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk ke dalam otak mereka, dan tidak mudah  hilang  dari ingatan.

Catatan Kaki:

15 Muttafaq Alaih, dari Mu'awiyah. al-Lu'lu' wa al-Marjan (615) ^
16 Muttafaq 'Alaih, dari Mu'awiyah, al-Lu'lu' wal-Marjan (1471) ^
17 Hadits ini diriwayatkan dalam beberapa redaksi yang berbeda dari Zaid bin Tsabit, Ibn Mas'ud dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Jami'as-Shaghir (6763-6766) ^
18 Lihatlah penjelasan hadits ini di dalam at-Fath, 1 :177; Nawawi meriwayatkannya dari Muslim, yang kemudian dikutip oleh pengarang al-Lu'lu' wa al-Marjan. h. 601
^


:: bookmark: pakdenono ::





PRIORITAS MAKSUD DAN TUJUAN ATAS PENAMPILAN LUAR
<< Kembali ke Daftar Isi >>


DI ANTARA persoalan yang termasuk di dalam fiqh prioritas  ini ialah  tujuan. Yakni menyelami pelbagai tujuan yang terkandung di  dalam  syari'ah,  mengetahi  rahasia  dan   sebabsebabnya, mengaitkan   antara   satu   sebab  dengan  sebab  yang  lain, mengembalikan cabang kepada  pokoknya,  mengembalikan  hal-hal yang parsial kepada yang universal, dan tidak menganggap cukup mengetahui penampakan dari luar, serta jumud di dalam memahami nash-nash syari'ah tersebut.

Sebagaimana  diketahui,  dari  nash  yang bermacam-macam, yang berasal dari al-Qur'an dan Sunnah,  seperti  yang  ditunjukkan oleh  penelitian  hukum  yang  parsial  dalam  berbagai bentuk peribadahan dan muamalah, hubungan antara  keluarga,  hubungan sosial,  politik,  dan  hubungan internasional, bahwa syari'ah ini memiliki berbagai tujuan yang terkandung pada  setiap  hal yang   disyari'ahkan  olehnya,  baik  berupa  perintah  maupun larangan; ataupun berupa hukum yang  mubah.  Agama  ini  tidak mensyari'ahkan  sesuatu  dengan  sewenang-wenang,  tetapi  dia dalam syari'ah yang dibuatnya terkandung  hikmah  yang  sesuai dengan  kesempurnaan  Allah  SWT,  ilmu-Nya,  rahmat-Nya,  dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Di antara nama-Nya yang mulia ialah  "Maha  Mengetahui  dan  Maha Bijaksana". Allah SWT Maha Bijaksana dengan apa yang disyari'ahkan dan  Dia  perintahkan. Dia  juga  Maha  bijaksana dalam hal yang berkaitan dengan apa yang  Dia  ciptakan   kemudian   Dia   menetapkan   ukurannya. Kebijaksanaan-Nya  tampak pada dunia perintah-Nya, sebagaimana tampak juga di dalam dunia penciptaan. Allah SWT berfirman:

"... Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah..." (al A'raf: 54)

Karena Dia tidak pernah menciptakan  sesuatu  dengan  sia-sia, maka juga tidak pernah menetapkan syari'ah yang kaku dan tidak berguna.

Orang-orang yang bijak berkata  tentang  apa  yang  diciptakan oleh Tuhan

"... Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali 'Imran: 151)

Kita juga dapat mengatakan, "Wahai  Tuhan  kami,  sesungguhnya Engkau  tidak  menetapkan  syari'ah  ini kecuali dengan hikmah yang terkandung di dalamnya."

Kekeliruan yang sering kali dilakukan  oleh  orang-orang  yang menggeluti  ilmu  agama  ini  ialah  bahwasanya  mereka  hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke  dasarnya, karena  mereka  tidak  memiliki  keahlian  dalam  berenang dan menyelam  ke  dasarnya,  untuk  mengambil  mutiara  dan   batu mulianya.  Mereka  hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari  rahasia  dan  tujuan yang sebenarnya. Mereka dilalaikan oleh perkara-perkara cabang saja dan bukan perkara-perkara yang utama. Mereka  menampilkan agama  Allah, dan hukum-hukum syari'ahnya atas hamba-hamba-Nya dalam bentuk yang bermacam-macam, dan tidak menampilkan  dalam bentuknya  yang  universal.  Bentuk-bentuk itu tidak dikaitkan dengan satu sebab yang menyatukannya, sehingga syari'ah  agama Allah  hanya  tampak seperti yang diucapkan oleh lidah mereka, dan yang ditulis oleh pena mereka. Syari'ah seakan-akan  tidak mampu  mewujudkan  kemaslahatan  bagi  makhluk  Allah, padahal kegagalan itu sebenarnya  bukan  pada  syari'ah,  tetapi  pada pemahaman  mereka  yang memutuskan keterkaitan antara sebagian hukum dengan sebagian yang  lain.  Mereka  tidak  peduli  bila tindakan  mereka  memisahkan  antara  hal-hal  yang sama, atau menyamakan hal-hal yang sebetulnya berbeda;  padahal  hal  itu sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh syari'ah.

Seringkali penyimpangan pada hal-hal yang lahiriah seperti ini mempersempit apa yang sebenarnya telah diluaskan  oleh  Allah, mempersulit  hal-hal  yang  dipermudah  oleh syari'ah, membuat stagnasi persoalan yang sepatutnya dapat  dikembangkan,  serta mengikat   hal-hal   yang   seharusnya  dapat  diperbarui  dan kembangkan.





PRIORITAS IJTIHAD ATAS TAQLID


<< Kembali ke Daftar Isi >>


PEMBAHASAN  mengenai  prioritas  ijtihad  dan  pembaruan  atas pengulang-ulangan  dan  taqlid,  berkaitan  erat  dengan  fiqh maksud dan tujuan syari'ah seperti yang telah  kami  bahas  di muka,  serta  berkaitan  pula  dengan  masalah  pemahaman  dan hafalan.

Ilmu,  menurut  para  ulama  salaf  umat  ini,  bukan  sekadar pengetahuan  tentang  hukum,  walaupun  diperoleh  dari  hasil taqlid kepada orang lain  atau  mengutip  perkataannya  dengan tidak  memiliki  hujjah  yang memuaskan. Dengan kata lain, dia mengetahui kebenaran melalu orang lain, dan mengikuti pendapat orang banyak yang tidak berdalil.

Ilmu,  menurut mereka sekali lagi, ialah ilmu yang independen, yang disertai dengan hujjah, dan tidak perduli apakah ilmu ini disepakati oleh Zaid atau Amr. Ilmu ini tetap berjalan bersama dengan dalilnya ke manapun  ia  pergi.  Dia  berputar  bersama kebenaran yang memuaskan di manapun berada.

Ibn  al-Qayyim  mengemukakan  hujjah berkenaan dengan larangan dan celaan melakukan taqlid berdasarkan firman Allah SWT:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyei pengetahuan tentangnya..." (al-Isra': 36)

Dia berkata, "Taqlid itu bukanlah pengetahuan yang  disepakati oleh ahli ilmu pengetahuan itu." Dalam I'lam al-Muwaqqi'in, ia menyebutkan lebih dari delapan puluh macam taqlid  yang  tidak benar,  dan  penolakannya terhadap syubhat yang dilakukan oleh para pelakunya."19

Kalau  kejumudan  pada   lahiriah   nash   dianggap   tercela, sebagaimana  yang  dilakukan  oleh  pengikut mazhab Zhahiriyah lama dan baru,  maka  celaan  juga  patut  dikenakan  terhadap kejumudan   terhadap   apa  yang  dikatakan  oleh  para  tokoh terdahulu, tanpa mempedulikan perkembangan yang terjadi antara zaman  kita  dan  zaman  mereka,  keperluan kita dan keperluan mereka, pengetahuann kita dan pengetahuan mereka.  Saya  kira, kalau  mereka  sempat  hidup  pada  zaman  kita  sekarang  ini sehingga mereka dapat melihat  apa  yang  kita  lihat,  mereka hidup  seperti  kita  hidup  sekarang ini --pada posisi mereka sebagai orang yang mampu melakukan  ijtihad  dan  berpandangan luas--  maka  mereka  akan  banyak  mengubah  fatwa  dan hasil ijtihad yang telah mereka lakukan.

Bagaimana tidak? Sahabat-sahabat mereka, yang  datang  sesudah periode   mereka   banyak  yang  telah  melakukan  pengubahan, dikarenakan terjadinya perbedaan waktu dan zamannya,  walaupun sebenarnya  jarak  waktu  antara kelompok pertama dan kelompok yang kedua tidak begitu jauh. Bagaimana tidak, para imam  ahli ijtihad  itu sendiri telah banyak melakukan perubahan terhadap pendapat mereka ketika mereka masih  hidup,  karena  mengikuti perubahan  ijtihad  yang baru mereka lakukan, bisa jadi karena pengaruh umur, kematangan, zaman, atau tempat mereka melakukan ijtihad?

Imam  Syafi'i  r.a.  sebelum  pindah  dan menetap di Mesir dia telah  mempunyai  mazhab  yang  dikenal  dengan  "Qaul  qadim" (pendapat  lama);  kemudian  setelah dia menetap di Mesir, dia mempunyai  mazhab  baru  yang  dikenal  dengan  "Qaul   jadid" (pendapat  baru).  Hal ini terjadi karena dia baru melihat apa yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan dia baru mendengar apa yang belum dia dengar sebelum itu.

Imam  Ahmad  juga  meriwayatkan  bahwa  dalam satu masalah dia mengeluarkan pandangan yang berbeda-beda. Hal ini  tidak  lain karena  sesungguhnya  fatwanya  dikeluarkan  pada  situasi dan kondisi yang berbeda.

Catatan Kaki:

19 Lihat I'lam al-Muwaqqi'in, juz 2, h. 168-260, cet. Al-Sa'adah Mesir, yang ditahqiq oleh Muhammad Muhyiddin Abd al-Hamid. ^



:: bookmark: pakdenono ::





PRIORITAS STUDI DAN PERENCANAAN PADA URUSAN DUNIA


<< Kembali ke Daftar Isi >>
KALAU kita pernah mengatakan tentang pentingnya ilmu atas amal dalam berbagai urusan agama, maka kita sekarang ini menegaskan mengenai pentingnya ilmu dalam urusan-urusan dunia.

Kita  hidup  sekarang  ini  pada  zaman  yang  segala  sesuatu didasarkan atas ilmu pengetahuan. Pada zaman kita sekarang ini sudah tidak lagi  menerima  hal-hal  yang  tidak  teratur  dan mengawur  dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia.

Semua  pekerjaan  yang  baik  mesti  didahului  dengan   studi kelayakan  terlebih  dahulu, dan harus dipastikan menghasilkan sesuatu yang memuaskan sebelum  pekerjaan  itu  dimulai.  Oleh karena  itu,  mesti  ada perencanaan sebelum melakukannya, dan harus diperhitungkan secara matematis dan  dilakukan  berbagai penelitian sebelum pekerjaan itu dilakukan.

Dalam   buku   dan   kajian-kajian   yang   lain  saya  pernah menyebutkan: "Sesungguhnya penelitian, perencanaan, dan  studi kelayakan sebelum kerja dilaksanakan merupakan etos kerja yang telah ada pada Islam. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali   melakukan   perhitungan   secara   statistik   terhadap orang-orang yang beriman kepadanya setelah  dia  berhijrah  ke Madinah  al-Munawwarah.  Dan kesan dari perencanaan itu begitu terasa   pada   perjalanan   hidup   beliau   dalam   berbagai bentuknya.20

Seharusnya orang yang paling dahulu melakukan perencanaan hari esok mereka ialah para aktivis gerakan Islam, sehingga  mereka tidak   membiarkan   semua   urusan   mereka   berjalan  tanpa perencanaan; tanpa memanfaatkan pengalaman di masa yang  lalu; tanpa  mencermati  realitas  yang terjadi pada hari ini; tanpa menimbang benar dan salahnya ijtihad  yang  pernah  dilakukan; tanpa  menilai untung-ruginya perjalanan umat kemarin dan hari ini;  tanpa  memiliki  pengetahuan  yang   mendalam   mengenai kemampuan  dan  fasilitas  yang  dimiliki oleh umat, baik yang berbentuk material maupun  spiritual,  yang  tampak  dan  yang tidak   tampak,  yang  produktif  dan  yang  tidak  produktif. Perencanaan yang mereka buat itu  mesti  memperhatikan  sumber kekuatan  dan  titik-titik  kelemahan  yang dimiliki oleh umat kita dan musuh-musuh kita; kemudian siapakah sebenarnya  musuh kita  yang  hakiki?  Siapakah  musuh kita yang abadi dan musuh yang insidental? Siapakah di antara mereka yang mungkin  dapat kita manfaatkan dan siapa yang tidak dapat dimanfaatkan? Siapa yang dapat kita ajak berdiskusi dan siapa  yang  tidak?  Semua musuh   harus   kita   pandang  secara  berbeda,  karena  pada hakikatnya mereka juga berbeda-beda.

Semua persoalan di atas tidak dapat diketahui  kecuali  dengan ilmu  pengetahuan  dan  kajian yang objektif, yang sama sekali tidak emosional,  bebas  dari  pelbagai  pengaruh  individual, lingkungan dan waktu sejauh yang dapat dilakukan oleh manusia; karena sesungguhnya  kebebasan  yang  bersifat  mutlak  hampir dapat dikatakan mustahil.

Rabu, 21 Desember 2011

KEBOHONGAN NATAL 25 DESEMBER

SEJARAH NATAL

Kata
natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih - yang mereka sebut Tuhan Yesus.

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 - 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus Menurut Bibel 

Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1:8 dan Matius 2:1, 10, 11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).

Lukas 2:1-8: 


Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.
Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 


Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam Ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertugas ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut
Matius 2:1, 10, 11:


Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya.


Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM - 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci
Al Qur'an telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihissalam). 


"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu". (Surat Maryam: 23-25). 


Jadi menurut Al Qur'an Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible - seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23) : Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus - September.

Sementara itu Uskup Barns dalam
Rise of Christianity - seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut: 


There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so law in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted about A.D. 3000.

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Behtlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pengunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 200 Masehi). 


Pada Tahun Berapa Yesus Lahir? 

Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi - 14 Sesudah Masehi.
** Sedangkan Matius 2:1 (juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi - 4 sesudah Masehi.

Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan rev. Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul
The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut: 


In the nineteehnt century, when it became evident and was finally admitted that Herod died in the year 4 B.C. and it was recalled that, according to story in Matthew's Gospel (2:16), King Herod, in order to eliminate little Jesus as a possible "King of the Jews", had ordered all infants of two years old and under to be killed, the birth-date of Jesus 0bviously had to be moved back to 4 B at least. Today, scholars prefer 5 to 6 B as the date best accomodating the indonsistent and even cont5radictory traditions, legens, and gospels, although some historians push the date back to 8 and 10 b.C. The problem of the correct dating of Jesus' birth, life, and death has now been raised again (due to several statemensin these Essence Scrolls) along with the related question on the deity.

(Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diajui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali). 



Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.

Asal usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember? 

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuni di dalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

H.W. Armstrong dalam bukunya
The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan: 


Namrud cucu Ham. Anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nirod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kota "Marad" yang artinya: "Dia membangkang atau Murtad" antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama "Semiramis". 

Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon "Evergreen" yang tumbuh dari sebatang kayu mati.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-usul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai "anak suci dari surga".


Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi "Mesiah palsu", berupa dewa "Ba-al" anak dewa matahari dengan obyek penyembahan "Ibu dan Anak" (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa "Isis dan Osiris", di Asia bernama "Cybele dan Deoius", di Roma disebut "Fortuna dan Yupiter". Bahkan di Yunani, "Kwan Im" di Cina, Jepang, dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa "Madonna" dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal
25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa).

1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana?an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besar dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus,Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh
perawan, antara lain Zrates (Bangsa Persia) dan Fo Hi (Bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Solulus, Aristonicus, Tibarius, Grocesus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba. 

Konsep/dogma agama bahwa yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat
Romawikarena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada jemaat di Roma. 


Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa ? (Roma 3:7). 


Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu. Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang?. (Matius 24:4-5).  

Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal

Untuk mengetahi pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi dari tradisi paganisme, baiklah kita telaah
Yeremia 10:2-4: 


"Beginilah firman Tuhan: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak, orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang." 


Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal, yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala.

Selanjutnya mari kita simak penjelasan dalam
Yeremia 10:5:


"Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara, orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapat." 


Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal 

1. Catholic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Chrismas:


"Natal bukanlah upacara gereja yang pertama ... melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus." 


Dalam buku yang sama, tentang "Natal Day" dinyatakan sebagai berikut: 


"Di dalam kitab suci tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir'aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."


2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan: 


"Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambi oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.' 


3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, menyatakan: 


"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut". (Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus) ... Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari". Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus."  


Keterangan:

** Jika kita menerima keterangan Injil Lukas, maka Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi. Hal ini didasarkan pada keterangan Injil Lukas yang menempatkan pembaptisan Yesus pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Roma Tiberius, dan saat Pontius Pilatus menjadi pejabat gubernur Yudaea (Lukas 3:1), dan bahwa Kaisar Tiberius menggantikan Kaisar Agustus pada tahun 14 Masehi,*maka Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada tahun 29 Masehi, yakni ketika Yesus berumur kira-kira 30 tahun (Lukas 3:23). Ini berarti, Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi.


Rujukan: 

* A) Josephus F (1998) B) Asimov I (1969) C) Braid W (1971) D) Duncan GB (1971) E) Leon-Dufour X (1983) F) Jerald F. Dirks (2001).



Wassalaam.

Sabtu, 12 November 2011

Presiden Taiwan Pertimbangkan Persetujuan Damai dengan Tiongkok

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengatakan ia ingin menandatangani perjanjian perdamaian dengan Tiongkok dalam dekade mendatang, jika rakyat pulau itu setuju.

Komentar Ma disampaikan hari Senin di Taipei, ketika jajak pendapat terbaru menunjukkan dia unggul dari saingan utamanya, pemimpin oposisi Tsai Ing-wen, dalam kampanye pemilu presiden. Pemilu itu dijadwalkan pertengahan Januari mendatang.

Masa jabatan Ma sekarang telah ditandai dengan upaya-upaya memperbaiki hubungan dengan Beijing, termasuk dukungan bagi sejumlah besar kesepakatan perdagangan dan investasi.

Hari Senin, ia mengatakan setiap pakta perdamaian dengan Tiongkok memerlukan apa yang disebutnya "tingkat dukungan yang tinggi dari masyarakat Taiwan."

Kamis, 10 November 2011

Silsilah dan Riwayat Singkat Nabi Kongzi

Nabi Kongzi adalah putra bungsu Shu Liang He. Beliau mempunyai 9 kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang cacat kaki bernama Meng-pi. Ibu Nabi bernama Yan Zheng Zai. Beliau lahir pada tanggal 27 Ba Yue 551 SM di Negeri Lu (di Zhongguo dan Taiwan hari lahir beliau disesuaikan penanggalan Masehi menjadi 28 September), Kota Zou Yi, Desa Chang Ping di lembah Kong Song (kini di jasirah Shandong kota Qu Fu). Nama kecil Nabi adalah Qiu yang berarti bukit alias Zhong Ni yang artinya putera kedua dari bukit Ni, beliau menikah dengan puteri Negeri Song yang bermarga Jian Guan. Dari pernikahan ini mendapat seorang putera yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu. Diberi nama demikian karena pada kelahiran putera ini Nabi telah diantari ikan gurami oleh Raja Muda Negeri Lu yang panggilannya Lu Zhao Gong. Disamping Li, Nabi masih mempunyai dua orang puteri yang seorang menjadi isteri Gong-ye Chang, murid Nabi.
Nenek Moyang Nabi Kongzi yang perlu diketahui :

1. Raja Suci Huang Di (2698 SM-2598 SM): Seorang Raja Suci purba yang berjasa besar dalam membangun peradaban dan kebudayaan serta mengatur tata pemerintahan.
2. Xie, seorang menteri Pendidikan pada jaman Raja Yao (2357 SM-2255 SM) dan Raja Shun (2255 SM-2205 SM).
3. Cheng Tang, pendiri Dinasti Shang atau Yin (1766 SM-1122 SM).

4. Wei-zi Qi, kakak tertua Raja Zhou, Raja terakhir dinasti Shang. Setelah dinasti Shang roboh Wei-zi Qi diangkat menjadi Raja Muda yang pertama di Negeri Song. Karena tidak mempunyai anak, adiknya yang bernama Wei Zhong diangkat sebagai penerusnya. Wei Zhong inilah yang menurunkan Raja-raja Muda Negeri Song.
5. Kong-fu Jia, seorang bangsawan Negeri Song keturunan Wei Zhong pertama kali menggunakan nama keluarga Kong/Khong. Sedang sebelumnya mereka adalah orang bermarga Zi seperti Raja-raja dinasti Shang.
6. Kong-fang Shu, seorang bangsawan keturunan Kong-fu Jia mengungsi dari Negeri Song ke Negeri Lu karena terjadi kekalutan politik. Kong-fang Shu mempunyai anak Kong-bo Xia dan Kong-bo Xia mempunyai anak Kong He alias Shu Liang, dan orang biasa menyebut beliau Shu Liang He. Beliaulah ayah Nabi Kongzi.

Peristiwa-peristiwa Dalam Hidup Nabi

1. Usia 3 tahun ayah beliau wafat.
2. Usia 6 tahun telah menunjukkan sifat-sifat kenabiannya; dalam bermain senang mengajak dan memimpin kawan-kawannya menirukan orang melakukan ibadah dan sembahyang.
3. Usia 15 tahun beliau telah memiliki semangat belajar yang luar biasa.
4. Usia 19 tahun menikah dengan seorang gadis dari marga Jian Guan dari Negeri Song.
5. Usia 20 tahun diangkat menjadi Menteri lumbung oleh Keluarga Besar Ji.
6. Usia 21 tahun dikarunia seorang putera yang diberi nama Li alias Bo Yu.
7. Usia 24 tahun, ibu beliau wafat (ada yang mengatakan ibu Yan Zheng Cai Wafat ketika beliau berusia 17 tahun). Beliau berkabung 3 tahun. Jenasah kedua orang tuanya dimakamkan di gunung Fang Shan. Setelah selesai masa berkabung beliau sudah banyak menerima murid.
8. Usia 29 tahun beliau belajar musik kepada Shi Xiang, seorang guru musik yang termasyur.
9. Usia 30 tahun disertai dua orang murid: Nan-gong Jing-shu dan Meng-yi Zi (keduanya putera bangsawan besar keluarga Meng, yakni Meng-xi Zi. Beliau berkunjung ke Ibukota Negeri Zhou untuk mempelajari Li (Kesusilaan) dan peradaban dinasti Zhou, disana beliau bertemu dengan penjaga perpustakaan kerajaan bernama Lao Dan dan guru musik bernama Chang Hong.
10. Usia 35 tahun beliau ke Negeri Qi karena di Negeri Lu terjadi kekalutan dan Raja mudanya Lu Zhao Gong lari ke Negeri Qi. Waktu itu Negeri Qi diperintah oleh Raja Muda Qi JIng Gong dengan perdana menterinya Yan Ying atau Yan Ping Zhong yang terkenal pandai.
11. Usia 36 tahun beliau kembali ke Negeri Lu dan meneruskan mendidik murid-muridnya.
12. Usia 51 tahun sampai 55 tahun beliau aktif dalam pemerintahan yang waktu itu. Raja Mudanya ialah Lu Ding Gong. Beliau pernah menjabat sebagai Walikota Zhong Dou dan menteri pekerjaan umum. Jabatan yang tertinggi dan terakhir adalah sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Kehakiman Da Si Kou.
13. Usia 56 tahun pada hari Dong Zhi meninggalkan Negeri Lu dan mulai pengembaraannya ke berbagai Negeri sebagai Mu-Duo (Genta Rohani Tuhan). TIAN Tuhan Yang Maha Esa telah mengutus-Nya sebagai Nabi Segala Masa, Yang Lengkap, Besar dan Sempurna/Ji Da Cheng. Beliau mengembara lebih kurang 13 tahun.
14. Tahun 483 SM Li atau Bo Yu, putera beliau meninggal dunia.
15. Tahun 482 SM Yan Hui, Murid yang termaju dan diharapkan menjadi penerus beliau meninggal dunia.
16. Tahun 481 SM salah seorang pegawai Keluarga Besar Ji Kang Zi telah membunuh Qi Lin dalam perburuan Raja Muda Lu Ai Gong.
17. Akhir tahun 480 SM Zi Lu atau Zhong You (murid beliau yang gagah berani penuh kejujuran) gugur di Negeri Wei karena disana terjadi pemberontakan.
18. Tanggal 18 Er Yue. Nabi Wafat.
19. Raja Muda-Raja Muda Lu yang memerintah selama masa hidup Nabi ialah : Lu Xiang Gong, Lu Zhao Gong, Lu Ding Gong dan yang terakhir Lu Ai Gong.

Jumat, 05 Agustus 2011

Ideologi Dibalik Breivik (VI): Siapakah Orang-orang yang Mempengaruhi Intelektual Pembunuh?

Ideologi Dibalik Breivik (VI): Siapakah Orang-orang yang Mempengaruhi Intelektual Pembunuh?
Jumat, 05 Agustus 2011 18:01 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO - Politisi ultra-kanan bukan satu-satunya yang bisa disalahkan. Golongan konservatif pun, seperti ditulis Der Spiegel, harus menanyai diri sendiri bagaimana mereka berkontribusi terhadap atmosfer yang memunculkan 'penyelamat tunggal' yang melakukan pembantain

New York Times, bahkan menuding Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy serta Kanselor Jerman, Angela Merkel ikut berperan dengan menunjukkan keraguan bahwa Eropa mampu terbuka menyerap pendatang baru.

Apakah Eropa kini diliputi hawa pemikiran pembunuh ultra-kanan? Sejak tragedi Norwegia berlangsung, pertanyaan itu sulit dijawab dengan 'tidak'.

Dengan manifestonya yang mengutip sumber jurnalis, pemikir dari sana-sini, Breivik telah melemparkan bom ke masyarakat Eropa. Debat antara kanan dan kiri, antara pendukung multikulturalisme dan penyelamat Barat, telah memantik percikan berbahaya dan dorongan membunuh dalam kepalanya, itulah pengakuan Breivik.

Mereka yang kerap mempromosikan pemikiran itu kini duduk di kursi panas. Menurut sebuah pesan yang ditayangkan di sebuah blog anti-Islam berbahasa Jerman, pi-news.net, 24 jam setelah pembunuhan di Oslo dan Utoya, Breivik menulis komentar, "Sebagian besar dari juga dapat ditemukan dalam forum ini."

Bencana Konservatif

Huruf 'p.i' adalah singkatan dari 'politically incorret' yang menjadi seruan bagi pengarang tulisan-tulisan xenofobia yang ingin menjauhkan diri dari arus utama, politik sosial yang mengusung toleransi dan sikap saling menghormati.

Blog itu dibuat pada 2004 oleh Stefan Herre, seorang guru fisika di bagian barat Jerman. Ia mengklaim menerima 50 ribu klik perhari dan dipandang sebagai salah satu forum anti-Islam internet terpenting di Jerman.

Sebelum kontroversi kartunis Denmar yang melecehkan Rasul Muhammad merebak pada 2005, Stefan adalah satu-satunya pemilik blog. Namun kini ia membuka kemungkina orang bergabung dan kini jumlah anggota dan identitas pengelola blog tak lagi diketahui.

Sejak akhir 2007, grup tersebut, yang menyebut diri pro-Amerika dan pro-Israel, telah menggelar sejumlah diskusi dan acara di luar negeri, diduga mereka cemas dengan ancaman bila statusnya sebagai 'pejuang anti-Islamisasi di Eropa' terekspos.

Dua hari setelah pembantaian, seorang pengarang dengan nama samaran, Frank Furter, menggambarkan serangan di Norwegia sebagai 'bencana konservatif'. Ia berpendapat masalah yang mendorong Breivik melakukan serangan adalah terlalu nyata, tak jauh dari isu imigran Muslim dan kehadiran Islam di Eropa

Terutama, ia menekankan, masalah integrasi Muslim imigran yang ditemukan di mana-mana, peningkatan Islamisasi dan sikap diktatorship sayap kiri yang berpotensi menghilangkan identitas di kalangan Eropa.

Banyak blog-blog miliki golongan ultra kanan, menggunakan konflik nilai Barat terhadap nilai-nilai Islam sebagai dalih untuk menghasut Islamofobia.

Di dalam pi-news terdapat banyak komentar pembaca (kerap ditulis dalam bahasa Jerman yang buruk, kadang tanpa koma satu pun). Salah satunya dari seorang pembaca dengan nama samaran Warwolf. "Saya berharap seandaianya pembunuhan dimulai di sini di Jerman dan Eropa, maka para sayap kiri adalah kelompok pertama yang harus dipenggal. Saya berdoa terjadi perang,"

Itu hanyalah sedikit komentar dan langkah yang mengarah ke dunia ketidakwarasan ala Anders Breivik.

Tidak Masuk Penyelidikan

Tak seperti gerakan Muslim, pi-news tidak akan dijadikan kasus oleh badan intelijen domestik Jerman yang memonitor aktivitas ekstremisme di negara tersebut. "Meski kami terus memantau grup tersebut, tak ada kondisi hukum untuk memasukkan dalam laporan kami," ujar jurubicara badan tersebut pekan lalu.

Departemen untuk Perlindungan dan Konstitusi juga berargumen bahwa hanya karena dukungan secara nyata terhadap Israel, AS dan konstitusi Jerman, pi-news ta bisa dikategorikan sebagai ekstremis sayap kanan.

Itu berarti orang-orang macam 'Warwolf' dan 'Proxima Centauri' dapat dengan tenang menyiapkan diri menggelar acara bagi partai ultra-kanan, Die Freiheit (Kebebasan) di Berlin pada 3 September nanti. Pendiri partai itu sangat dekat dengan Stefan Herre. Dalam acara juga akan hadir politisi Belanda, Geert Wilders dan juga anggota Partai Rakyat Swiss--yang menggolkan larangan pendirian menara masjid di Swiss--, Oskar Freysinger.

Para rasis, individu tunggal penyelamat dunia, tentara perang salib, anggota Knight Templar dan pelindung Barat di penjuru dunia, masih menurut Spiegel, telah menjalin hubungan. Di Jerman, mereka melakukan provokasi agresif dalam Nürnberg 2.0.

Itu adalah nama sebuah situs yang bertujuan membangkitkan sidang kriminal perang Nazi. Situs itu dengan keras mengkritik pembela Islam, termasuk penulis sejumlah media massa, seraya menuding bahwa mereka harus bertanggung jawab di depan publik.

Kamis, 07 Juli 2011

Kesuburan Pria Ditentukan Tulang

Kesuburan Pria Ditentukan Tulang



















Senin, 21 Februari 2011


Hidayatullah.com--Para peneliti pada Columbia University Medical Center menemukan bahwa tulang rangka berlaku sebagai pengatur kesuburan pada tikus jantan melalui sebuah hormon yang dilepaskan oleh tulang yang dikenal dengan nama hormon osteocalcin.

Penelitian yang diketuai Gerard Karsenty, M.D., Ph.D., kepala Jurusan Genetika dan Perkembangan pada Columbia University Medical Center akan dipublikasikan dalam jurnal Cell 4 Maret mendatang.

Sampai sekarang, interaksi antara tulang dan sistem reproduksi hanya fokus pada pengaruh gonad (kelenjar kelamin) dalam pembentukkan massa tulang.

"Karena komunikasi antara dua organ dalam tubuh jarang searah, fakta bahwa gonad mengatur tulang menimbulkan pertanyaan: Apakah tulang mengatur gonad?" kata Dr. Karsenty.

Dr. Karsenty dan timnya mendapatkan petunjuk pertama mereka untuk sebuah jawaban pada sukses reproduktif mereka di laboratorium tikus.

Sebelumnya, para peneliti telah mengamati bahwa tikus jantan yang tulang rangkanya tak menyembunyikan hormon osteocalcin adalah pengembangbiak yang buruk.

Para peneliti kemudian melakukan beberapa eksperimen yang menunjukkan bahwa osteocalcin memperkuat produksi testosteron, hormon steroid seks yang mengontrol kesuburan jantan.

Begitu mereka menambahkan osteocalcin ke bagian itu yang dalam tubuh kita menghasilkan testosteron, maka sintesanya meningkat. Mirip dengan itu, ketika mereka menginjeksikan osteocalcin ke tubuh tikus jantan, maka tingkat sirkulasi testosteron juga ikut naik.

Sebaliknya, saat osteocalcin tidak ada, level testosteron turun dan menyebabkan menurunnya jumlah sperma.

Ketika tikus jantan yang kekurangan osteocalcin itu dikawinkan dengan tikus betina normal, mereka hanya memproduksi setengah dari kelenjar yang bisa dihasilkan pasangan normal.

Kendati penemuan ini belum dikonfirmasikan kepada manusia, Dr. Karsenty yakin bahwa karakteristik serupa terdapat pula pada manusia mengingat hormon tikus dan manusia itu mirip.

Jika osteocalcin juga mendorong produksi testosteron dalam pria, tingkat osteocalcin yang rendah mungkin menjadi alasan mengapa pria-pria tidak subur mempunyai tingkat testosteron rendah.

Yang menakjubkan, meskipun penemuan baru itu berasal dari satu amatan estrogen dan massa tulang, para peneliti tak bisa membutkikan bahwa tulang rangka mempengaruhi reproduksi pada wanita.

Estrogen dianggap satu dari sekian hormon paling mengontrol tulang; manakala ovarium berhenti memproduksi estrogen pada wanita di masa menopause, massa tulang dengan cepat berkurang dan menyebabkan osteoporosis.

Hormon-hormon seks --estrogen pada wanita dan testosteron pada pria-- dikenal mempengaruhi pertumbuhan tulang rangka, tapi sampai detik ini, berbagai penelitian mengenai interaksi tulang dengan sistem reproduksi hanya fokus pada bagaimana hormon seks mempengaruhi kerangka tulang.

"Kami tak tahu mengapa tulang rangka mengatur kadar kesuburan pria, bukan pada wanita. Kendati begitu, jika Anda ingin mengembangbiakkan spesies, adalah sangat mungkin untuk memanfaatkan penemuan ini dengan memfasilitasi kemampuan reproduktif si jantan," kata Dr. Karsenty. "Ini satu-satunya hal masuk akal yang saya kira bisa menjelaskan mengapa osteocalcin mengatur reproduksi pada tikus jantan, bukan pada tikus betina."

Hubungan mengejutkan antara tulang rangka dengan kesuburan pria adalah salah satu dari sejumlah penemuan mencengangkan yang berkaitan dengan tulang rangka dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam makalah-makalah sebelumnya, Dr. Karsenty menemukan bahwa osteocalcin membantu mengendalikan sekresi insulin, metabolisma glukosa, dan berat badan.

"Apa yang diperlihatkan penelitan ini adalah bahwa kami begitu sedikit mengetahui psikologi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan agak naif, kami bisa menggali penemuan-penemuan penting," kata Dr. Karsenty.

"Itu juga menunjukkan bahwa tulang mempengaruhi sederet fungsi penting yang terpengaruh selama proses penuaan. Seperti itu juga, penemuan ini menunjukkan bahwa tulang tidak sekadar korban dari proses penuaan, tapi juga menjadi determinan aktif dari penuaan itu sendiri," paparnya.

Berikutnya, para peneliti berencana menentukan jalur sinyal yang dipakai osteocalcin ketika memperbanyak produksi testosteron.

Dan untuk pengembangan obat yang potensial --karena para peneliti juga telah mengidentifikasi reseptor pada osteocalcin--, perlu lebih banyak lagi fleksibiliats dalam merancang obat dengan mengadopsi efek osteocalcin.

Apakah itu untuk metabolisma glukosa atau kesuburan, mengetahui reseptor itu akan mempermudah para ahli kimia dalam mengembangkan ramuan mujarab, kata Dr. Karsenty.

"Penelitian ini memperpanjang repertoar psikologis osteocalcin, dan memberi bukti pertama bahwa tulang rangka adalah pengatur reproduksi," demikian Dr. Karsenty.

 

WANITA INGGRIS TINGGALKAN KARRIR

Tren Baru: Wanita Inggris Tinggalkan Karir!



















Kamis, 17 Maret 2011


Hidayatullah.com—Perubahan dunia sangat cepat. Jika dahulu wanita Barat dikenal mengejar karir di sektor publik, tapi tren terbaru menujukkan sebaliknya.  Sebuah majalah wanita, Genius Beauty memberitaka, psikolog dan sosiolog Inggris mengemukakan sebagian besar wanita Inggris abad ini, berharap bisa hidup dengan orang yang dicintainya. Hal ini berdasarkan penelitian gabungan terhadap wanita pekerja di Inggris.

Hasilnya, 70% wanita meninginkan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan pasangan mereka. Sedangkan 64% dari lainnya ingin mendapatkan keduanya, yaitu keluarga dan karier berjalan seiring.

Selain itu, para ilmuwan juga menanyakan apakah wanita berpikir tentang tingkat IQ (Intelegence Quotient) pasangan mereka. Sekitar 62 persen dari mengaku ingin suami mereka lebih pintar dari mereka, meskipun 20 persen dari responden terhadap kecerdasan calon suami mereka.

Penelitian serupa yang dilakukan pada tahun 1990-an mengungkapkan hal berbeda. Hanya 20 persen wanita di Inggris yang ingin menikah secepatnya. Hasil terbesar, sekitar 80 persen mengutamakan kariernya terlebih dahulu. Hal ini merupakan perubahan ideologis yang terjadi dalam satu dekade ini.

Tausyiah MUI

Sebelum ini, Desember 2004, dalam Rakernasnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan satu rekomendasi bidang sosial budaya menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan “Gerakan Kembali ke Rumah” (al ruju' ila al usroh). Dalam rekomendasinya, MUI menghimbau para ibu jangan merasa bangga banyak di luar rumah dan merasa gengsi mendidik anak di rumah.

Menurut MUI, rumah harus menjadi wahana pendidikan pertama dan utama untuk membentengi anak dari serbuan budaya yang merusak akhlak. Seruan ini sangat menarik, sebab melawan arus dari gegap gempitanya para perempuan berkiprah di ruang publik.

Menariknya, sementara di Barat – yang kerap dijadikan acuan model peradaban masa depan—kini  muncul gerakan ‘kembali ke rumah’ sementara perempuan kita justru tengah getol-getolnya bekerja di sektor publik dan meninggalkan rumah.*

Rep: CR-3
Red: Panji Islam

 

KABAR PALESTINA

Zionis-Israel Untung Berkat Blokade Jalur Gaza



















Selasa, 05 Juli 2011


Hidayatullah.com--Israel mendapat banyak keuntungan berkat pemberlakuan blokade terhadap jalur Gaza. Demikian pernyataan Ketua Persatuan Pengusaha Gaza, Ali al Hayek, Senin ini, pada kantor berita Jerman, DPA.

Blokade tersebut, ditetapkan secara sepihak oleh Israel. Walaupun demikian, dengan segala macam cara, berbagai kebutuhan hidup setiap hari berhasil diselundupkan dari Mesir ke jalur Gaza. Menurut Ali al Hayek, Hamas memungut pajak dari berbagai kegiatan penyelundupan tersebut.

300 tawanan

Sementara itu, Kementerian Urusan Tawanan di Gaza melaporkan bahwa Zionis-Israel selama bulan Juni lalu telah menangkap lebih dari 300 warga Palestina, yang dilakukan dal 572 aksi serbuan terhadap sejumlah kota, desa, dan kamp di Tepi Barat, 36 dari mereka berusia di bawah 18 tahun, 4 orang wanita, 4 orang anggota legislatif dan 15 orang relawan asing.

Riyad Ashqar, Kepala Bagian Media di Kementerian menyebutkan, otoritas Israel pada bulan Juni lalu juga menangkap sejumlah tokoh Palestina dan anggota legislatifnya, 4 orang berasal dari Fraksi Perubahan dan Reformasi, mereka adalah: Abdurahman Zaidan, dari Tulkarm, Samir Qadi dari Sourif, Dr. Nasir Abdul Jawad dari Salfit dan Ahmad Haji dari Nablus.

Israel juga menangkap mantan Menteri, Ir. Washfi Qabha, setelah menggerebeg rumahnya di kota Jenin, Aleg dan tokoh Fatah, Husam Khidir, dan sejumlah tokoh sipil dari Hamas dan Jihad Islam, antara lain: Dosen Universitas, Ghassan Dauqan, Khalid Haji, Yasir Badrusawi, Walid Khalid, Husain Abu Kuwaik, Syeikh Bassam Sadi, Thariq Qa’dan, Sekjen Komite Rakyat Palestina, Azmi Sayukhi, wartawan Nawaf Amir, dan Fuad Khafash, Kepala Pusat Peneliti Tawanan, setelah rumahnya diserbu Israel di Nablus. Juga menawan kembali Muhammad Mansur Hamdan (51) dari Tulkarm, yang pernah mendekan selama 25 tahun di penjara Israel secara terus-menerus.*

Sumber : ifp
Rep: CR-3
Red: Cholis Akbar

 

Fase Penyebaran Islam di Nusantara

Fase Penyebaran Islam di Nusantara



















Oleh: Alwi Alatas


PENYEBARAN Islam di Nusantara, termasuk di pulau Jawa, biasanya digambarkan sebagai penyebaran yang bersifat damai. Dengan kata lain, Islam tersebar di wilayah ini tanpa melalui peperangan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan Asia Tengah. Penyebaran yang damai ini dilihat oleh sebagian orang sebagai hal yang positif, karena membantu terbentuknya karakteristik Islam yang cenderung damai dan toleran. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai kelemahan. Pola dakwahnya yang cenderung kurang tegas dalam aspek aqidah dianggap telah menyebabkan banyaknya percampuran nilai-nilai lokal yang tidak Islami dengan nilai-nilai dan praktek agama Islam.

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya memang dilakukan oleh para pedagang Muslim yang melakukan aktivitas perdagangan hingga ke wilayah ini. Karena mereka bukan merupakan ulama atau dai yang mengkhususkan diri untuk menyebarkan Islam, maka perkembangan Islam di Nusantara pada awalnya juga berlangsung relatif lambat. Walaupun para pedagang dari Timur Tengah telah melalui Selat Melaka sejak sebelum munculnya Islam di Jazirah Arab, Islam tersebar di Nusantara dalam waktu yang relatif lambat. Hal ini disebabkan faktor jarak yang jauh antara pusat pertumbuhan Islam di Jazirah Arab dengan wilayah Nusantara. Sebagaimana Geoffrey Blainey menggambarkan betapa tirani jarak (tyranny of distance) telah membentuk sejarah negerinya, Australia, tirani jarak juga sebetulnya ikut membentuk sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

Terlepas dari jarak yang jauh dan lambatnya perkembangan Islam di Nusantara, secara bertahap dan pasti pengaruh agama ini semakin kuat dan meluas di Nusantara. Keberadaan para pedagang Muslim diterima dengan baik oleh para penguasa dan masyarakat kerajaan Hindu-Budha di Nusantara. Sejak abad ke-7 pesisir Sumatera telah memiliki sebuah pemukiman Arab Muslim, dan sebagian dari pedagang ini melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan setempat (Azra, 1994: 29). Seiring dengan semakin berkembangnya komunitas Muslim di wilayah ini, pada gilirannya muncul dan berkembang juga kerajaan Islam di Sumatera.

Pola yang hampir sama berlangsung juga di Pulau Jawa, walaupun dalam waktu yang lebih lambat dibandingkan dengan Sumatera. Daya tarik perdagangan dan interaksi dengan para pedagang Muslim dari luar mendorong para penguasa kota-kota kecil di pesisir Jawa masuk Islam dan mengarahkan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama (Taylor, 2005: 157-8). Di Pulau Jawa, wilayah pesisir yang merupakan simpul-simpul perdagangan regional dan internasional menjadi wilayah yang paling kuat dan menonjol Islamnya (Bosquet, 1940: 1).

Perkembangan Islam menjadi semakin kuat dengan datangnya para ulama dan dai yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam. Kebanyakan ulama dan dai ‘profesional’ yang datang ke Nusantara ini adalah dari kalangan penganut tasawuf. Para dai ‘profesional’ ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Kedatangan orang-orang yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam ini menyebabkan proses Islamisasi di Nusantara mengalami percepatan yang signifikan antara abad ke-12 dan ke-16 (Azra, 1994: 31). Penyebaran Islam yang semakin pesat serta kemunduran yang dialami oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha pada gilirannya mendorong terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam lokal. Beberapa waktu kemudian, kerajaan-kerajaan Islam berkembang semakin pesat, sementara kerajaan-kerajaan Hindu-Budha terus mengalami kemunduran dan akhirnya lenyap dari sebagian besar wilayah Nusantara.

Bersamaan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam, penyebaran Islam di Nusantara memasuki fase baru, yaitu politik dan militer. Walaupun aktivitas militer atau jihad berjalan beriringan dengan, dan barangkali tidak lebih dominan dibandingkan, penyebaran melalui dakwah dan pengajaran, aktivitas ini memiliki peranan yang cukup penting untuk diperhatikan. H.J. de Graaf menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara terjadi melalui tiga cara yang berlangsung secara kronologis. Yang pertama adalah penyebaran melalui perdagangan (by the course of peaceful trade). Yang kedua melalui dakwah para dai dan kaum sufi (by preachers and holy men). Yang ketiga melalui kekuatan dan peperangan (by force and the waging of war) (de Graaf, 1970: 123-4)

Untuk kasus di Jawa misalnya, penyebaran Islam melalui kekuatan militer telah terjadi sejak awal keberadaan kerajaan Islam di wilayah itu, dalam hal ini Kerajaan Demak.

Hal ini terjadi kurang lebih pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Namun cara-cara militer ini tidak dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat penyebaran Islam, melainkan karena adanya ancaman dari kerajaan lain. Pada masa itu, Kerajaan Padjadjaran yang menganut Hindu berusaha menghalangi penyebaran Islam di wilayahnya dengan cara membatasi para pedagang Muslim yang datang ke kota-kota pelabuhan yang dikuasainya. Selain itu, Padjadjaran juga berusaha menjalin kerjasama dengan pihak Portugis yang sejak tahun 1511 telah menguasai wilayah Malaka. Dalam salah satu perjanjiannya, Kerajaan Padjadjaran berjanji memberi bantuan lada setiap tahunnya kepada Portugis dan memberi mereka ijin untuk membangun sebuah benteng di wilayah kerajaannya. Sebagai imbalannya, Portugis diminta membantu Padjadjaran secara militer jika yang terakhir ini mendapat serangan dari Kerajaan Demak atau yang lainnya.

Adanya perjanjian ini dilihat oleh Demak sebagai sesuatu yang akan membahayakan eksistensi Islam di Jawa dan Nusantara. Mereka sudah melihat apa yang telah dilakukan Portugis terhadap Kerajaan Malaka. Karenanya Demak tidak ingin hal yang sama juga terjadi di Pulau Jawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Demak memutuskan untuk mengambil alih pesisir Utara Padjadjaran. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan pembatasan terhadap para pedagang Muslim yang hendak berniaga di sana dan juga untuk menutup peluang masuknya Portugis ke wilayah itu.

Pada tahun 1524-1525, Sultan Demak, Trenggana, mengutus Sunan Gunung Jati dengan membawa pasukan menuju ke wilayah Banten yang ketika itu merupakan wilayah bawahan Padjadjaran. Penguasa Banten ternyata menerima kedatangan Sunan Gunung Jati dan membantu proses Islamisasi di wilayah itu. Pada tahun berikutnya Banten menjadi kerajaan bawahan Demak.

Langkah selanjutnya yang diambil adalah usaha menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang paling menonjol di wilayah kekuasaan Padjadjaran pada masa itu. Serangan terhadap Sunda Kelapa dilakukan pada tahun 1527 di bawah kepemimpinan Fatahilah yang merupakan menantu Sunan Gunung Jati. Bersama sejumlah hampir 1.500 tentara, Fatahilah berhasil merebut kota pelabuhan itu dari tangan Padjadjaran. Sejak itu, nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta yang merupakan cikal bakal kota Jakarta (Zakaria, 2010: 34-40).

Sejarah di atas menjelaskan beberapa hal kepada kita. Jihad dan tindakan militer tidak hanya berlaku pada proses penyebaran Islam di Nusantara, tetapi juga secara langsung melibatkan tokoh ulama dan wali yang menonjol. Peran Sunan Gunung Jati dan menantunya dalam pembebasan Banten dan Sunda Kelapa menjadi contoh yang nyata untuk ini. Walaupun para wali dan ahli tasawuf biasanya lebih banyak dihubungkan dengan dunia ibadah dan akhlak, ternyata hal itu tidak menghalangi mereka dari aktivitas politik dan militer.

Bagaimanapun, perlu juga disadari bahwa jihad dan aktivitas militer tidak serta merta dilakukan oleh para pemimpin Muslim pada masa itu. Walaupun syariat jihad telah ada dalam Islam sejak lebih dari delapan abad sebelumnya, komunitas Muslim tidak melakukan agresi militer atau sikap memerangi terhadap pihak yang memusuhi melainkan setelah adanya kondisi tertentu. Mereka mengambil langkah itu ketika keadaan menuntut mereka untuk melakukannya, yaitu adanya bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Selain itu, peranan militer baru dilakukan ketika sudah adanya suatu kerajaan Islam dan kerajaan tersebut memiliki perimbangan kekuatan dengan kerajaan lain yang mengancamnya. Jadi hal tersebut tidak dilakukan secara sporadis tanpa mempertimbangkan peta kekuatan yang ada serta tuntutan untuk melakukannya.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Islam telah berkembang dengan pesat di Nusantara melalui tahap pembentukan kekuatan ekonomi, pembangunan kekuatan spiritual dan keilmuan, dan pada akhirnya perwujudan kekuasaan politik dan jihad (militer). Namun tampaknya pada masa-masa belakangan ini, dua aspek yang awal, yaitu kekuatan ekonomi dan spiritual, cenderung diabaikan oleh masyarakat Muslim di Nusantara. Yang menjadi perhatian utama tinggal yang terakhir saja. Itu pun mungkin tanpa diiringi dengan pengertian yang tepat serta strategi yang jitu. Wallahu a’lam.*/Kuala Lumpur, 12 Jumadil Akhir 1432/ 15 Mei 2011

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII
dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia
. Bandung:
Mizan. 1994.
Bousquet, G.H. A French view of the Netherlands Indies. London: Oxford University
Press. 1940
de Graaf, H.J. “South-East Asian Islam to the eighteenth century,” dalam P.M. Holt, Ann
K.S. Lambton and Bernard Lewis (eds.). The Cambridge History of Islam, vol. 2.
Cambridge: Cambridge at The University Press. 1970).
Taylor, Jean Gelman. “The Chinese and the early centuries of conversion to Islam in
Indonesia,”
dalam Tim Lindsey and Helen Pausacker (eds.). Chinese Indonesians:
Remembering, distorting, forgetting. Singapore: Institute of Southeast Asian
Studies. 2005.
Zakaria, Mumuh Muhsin. Priangan Abad ke-19 dalam Arus Dinamika Sosial-Ekonomi.
Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, tidak
dipublikasikan. Bandung. 2010.