Kamis, 07 Juli 2011

Kesuburan Pria Ditentukan Tulang

Kesuburan Pria Ditentukan Tulang



















Senin, 21 Februari 2011


Hidayatullah.com--Para peneliti pada Columbia University Medical Center menemukan bahwa tulang rangka berlaku sebagai pengatur kesuburan pada tikus jantan melalui sebuah hormon yang dilepaskan oleh tulang yang dikenal dengan nama hormon osteocalcin.

Penelitian yang diketuai Gerard Karsenty, M.D., Ph.D., kepala Jurusan Genetika dan Perkembangan pada Columbia University Medical Center akan dipublikasikan dalam jurnal Cell 4 Maret mendatang.

Sampai sekarang, interaksi antara tulang dan sistem reproduksi hanya fokus pada pengaruh gonad (kelenjar kelamin) dalam pembentukkan massa tulang.

"Karena komunikasi antara dua organ dalam tubuh jarang searah, fakta bahwa gonad mengatur tulang menimbulkan pertanyaan: Apakah tulang mengatur gonad?" kata Dr. Karsenty.

Dr. Karsenty dan timnya mendapatkan petunjuk pertama mereka untuk sebuah jawaban pada sukses reproduktif mereka di laboratorium tikus.

Sebelumnya, para peneliti telah mengamati bahwa tikus jantan yang tulang rangkanya tak menyembunyikan hormon osteocalcin adalah pengembangbiak yang buruk.

Para peneliti kemudian melakukan beberapa eksperimen yang menunjukkan bahwa osteocalcin memperkuat produksi testosteron, hormon steroid seks yang mengontrol kesuburan jantan.

Begitu mereka menambahkan osteocalcin ke bagian itu yang dalam tubuh kita menghasilkan testosteron, maka sintesanya meningkat. Mirip dengan itu, ketika mereka menginjeksikan osteocalcin ke tubuh tikus jantan, maka tingkat sirkulasi testosteron juga ikut naik.

Sebaliknya, saat osteocalcin tidak ada, level testosteron turun dan menyebabkan menurunnya jumlah sperma.

Ketika tikus jantan yang kekurangan osteocalcin itu dikawinkan dengan tikus betina normal, mereka hanya memproduksi setengah dari kelenjar yang bisa dihasilkan pasangan normal.

Kendati penemuan ini belum dikonfirmasikan kepada manusia, Dr. Karsenty yakin bahwa karakteristik serupa terdapat pula pada manusia mengingat hormon tikus dan manusia itu mirip.

Jika osteocalcin juga mendorong produksi testosteron dalam pria, tingkat osteocalcin yang rendah mungkin menjadi alasan mengapa pria-pria tidak subur mempunyai tingkat testosteron rendah.

Yang menakjubkan, meskipun penemuan baru itu berasal dari satu amatan estrogen dan massa tulang, para peneliti tak bisa membutkikan bahwa tulang rangka mempengaruhi reproduksi pada wanita.

Estrogen dianggap satu dari sekian hormon paling mengontrol tulang; manakala ovarium berhenti memproduksi estrogen pada wanita di masa menopause, massa tulang dengan cepat berkurang dan menyebabkan osteoporosis.

Hormon-hormon seks --estrogen pada wanita dan testosteron pada pria-- dikenal mempengaruhi pertumbuhan tulang rangka, tapi sampai detik ini, berbagai penelitian mengenai interaksi tulang dengan sistem reproduksi hanya fokus pada bagaimana hormon seks mempengaruhi kerangka tulang.

"Kami tak tahu mengapa tulang rangka mengatur kadar kesuburan pria, bukan pada wanita. Kendati begitu, jika Anda ingin mengembangbiakkan spesies, adalah sangat mungkin untuk memanfaatkan penemuan ini dengan memfasilitasi kemampuan reproduktif si jantan," kata Dr. Karsenty. "Ini satu-satunya hal masuk akal yang saya kira bisa menjelaskan mengapa osteocalcin mengatur reproduksi pada tikus jantan, bukan pada tikus betina."

Hubungan mengejutkan antara tulang rangka dengan kesuburan pria adalah salah satu dari sejumlah penemuan mencengangkan yang berkaitan dengan tulang rangka dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam makalah-makalah sebelumnya, Dr. Karsenty menemukan bahwa osteocalcin membantu mengendalikan sekresi insulin, metabolisma glukosa, dan berat badan.

"Apa yang diperlihatkan penelitan ini adalah bahwa kami begitu sedikit mengetahui psikologi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan agak naif, kami bisa menggali penemuan-penemuan penting," kata Dr. Karsenty.

"Itu juga menunjukkan bahwa tulang mempengaruhi sederet fungsi penting yang terpengaruh selama proses penuaan. Seperti itu juga, penemuan ini menunjukkan bahwa tulang tidak sekadar korban dari proses penuaan, tapi juga menjadi determinan aktif dari penuaan itu sendiri," paparnya.

Berikutnya, para peneliti berencana menentukan jalur sinyal yang dipakai osteocalcin ketika memperbanyak produksi testosteron.

Dan untuk pengembangan obat yang potensial --karena para peneliti juga telah mengidentifikasi reseptor pada osteocalcin--, perlu lebih banyak lagi fleksibiliats dalam merancang obat dengan mengadopsi efek osteocalcin.

Apakah itu untuk metabolisma glukosa atau kesuburan, mengetahui reseptor itu akan mempermudah para ahli kimia dalam mengembangkan ramuan mujarab, kata Dr. Karsenty.

"Penelitian ini memperpanjang repertoar psikologis osteocalcin, dan memberi bukti pertama bahwa tulang rangka adalah pengatur reproduksi," demikian Dr. Karsenty.

 

WANITA INGGRIS TINGGALKAN KARRIR

Tren Baru: Wanita Inggris Tinggalkan Karir!



















Kamis, 17 Maret 2011


Hidayatullah.com—Perubahan dunia sangat cepat. Jika dahulu wanita Barat dikenal mengejar karir di sektor publik, tapi tren terbaru menujukkan sebaliknya.  Sebuah majalah wanita, Genius Beauty memberitaka, psikolog dan sosiolog Inggris mengemukakan sebagian besar wanita Inggris abad ini, berharap bisa hidup dengan orang yang dicintainya. Hal ini berdasarkan penelitian gabungan terhadap wanita pekerja di Inggris.

Hasilnya, 70% wanita meninginkan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan pasangan mereka. Sedangkan 64% dari lainnya ingin mendapatkan keduanya, yaitu keluarga dan karier berjalan seiring.

Selain itu, para ilmuwan juga menanyakan apakah wanita berpikir tentang tingkat IQ (Intelegence Quotient) pasangan mereka. Sekitar 62 persen dari mengaku ingin suami mereka lebih pintar dari mereka, meskipun 20 persen dari responden terhadap kecerdasan calon suami mereka.

Penelitian serupa yang dilakukan pada tahun 1990-an mengungkapkan hal berbeda. Hanya 20 persen wanita di Inggris yang ingin menikah secepatnya. Hasil terbesar, sekitar 80 persen mengutamakan kariernya terlebih dahulu. Hal ini merupakan perubahan ideologis yang terjadi dalam satu dekade ini.

Tausyiah MUI

Sebelum ini, Desember 2004, dalam Rakernasnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan satu rekomendasi bidang sosial budaya menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan “Gerakan Kembali ke Rumah” (al ruju' ila al usroh). Dalam rekomendasinya, MUI menghimbau para ibu jangan merasa bangga banyak di luar rumah dan merasa gengsi mendidik anak di rumah.

Menurut MUI, rumah harus menjadi wahana pendidikan pertama dan utama untuk membentengi anak dari serbuan budaya yang merusak akhlak. Seruan ini sangat menarik, sebab melawan arus dari gegap gempitanya para perempuan berkiprah di ruang publik.

Menariknya, sementara di Barat – yang kerap dijadikan acuan model peradaban masa depan—kini  muncul gerakan ‘kembali ke rumah’ sementara perempuan kita justru tengah getol-getolnya bekerja di sektor publik dan meninggalkan rumah.*

Rep: CR-3
Red: Panji Islam

 

KABAR PALESTINA

Zionis-Israel Untung Berkat Blokade Jalur Gaza



















Selasa, 05 Juli 2011


Hidayatullah.com--Israel mendapat banyak keuntungan berkat pemberlakuan blokade terhadap jalur Gaza. Demikian pernyataan Ketua Persatuan Pengusaha Gaza, Ali al Hayek, Senin ini, pada kantor berita Jerman, DPA.

Blokade tersebut, ditetapkan secara sepihak oleh Israel. Walaupun demikian, dengan segala macam cara, berbagai kebutuhan hidup setiap hari berhasil diselundupkan dari Mesir ke jalur Gaza. Menurut Ali al Hayek, Hamas memungut pajak dari berbagai kegiatan penyelundupan tersebut.

300 tawanan

Sementara itu, Kementerian Urusan Tawanan di Gaza melaporkan bahwa Zionis-Israel selama bulan Juni lalu telah menangkap lebih dari 300 warga Palestina, yang dilakukan dal 572 aksi serbuan terhadap sejumlah kota, desa, dan kamp di Tepi Barat, 36 dari mereka berusia di bawah 18 tahun, 4 orang wanita, 4 orang anggota legislatif dan 15 orang relawan asing.

Riyad Ashqar, Kepala Bagian Media di Kementerian menyebutkan, otoritas Israel pada bulan Juni lalu juga menangkap sejumlah tokoh Palestina dan anggota legislatifnya, 4 orang berasal dari Fraksi Perubahan dan Reformasi, mereka adalah: Abdurahman Zaidan, dari Tulkarm, Samir Qadi dari Sourif, Dr. Nasir Abdul Jawad dari Salfit dan Ahmad Haji dari Nablus.

Israel juga menangkap mantan Menteri, Ir. Washfi Qabha, setelah menggerebeg rumahnya di kota Jenin, Aleg dan tokoh Fatah, Husam Khidir, dan sejumlah tokoh sipil dari Hamas dan Jihad Islam, antara lain: Dosen Universitas, Ghassan Dauqan, Khalid Haji, Yasir Badrusawi, Walid Khalid, Husain Abu Kuwaik, Syeikh Bassam Sadi, Thariq Qa’dan, Sekjen Komite Rakyat Palestina, Azmi Sayukhi, wartawan Nawaf Amir, dan Fuad Khafash, Kepala Pusat Peneliti Tawanan, setelah rumahnya diserbu Israel di Nablus. Juga menawan kembali Muhammad Mansur Hamdan (51) dari Tulkarm, yang pernah mendekan selama 25 tahun di penjara Israel secara terus-menerus.*

Sumber : ifp
Rep: CR-3
Red: Cholis Akbar

 

Fase Penyebaran Islam di Nusantara

Fase Penyebaran Islam di Nusantara



















Oleh: Alwi Alatas


PENYEBARAN Islam di Nusantara, termasuk di pulau Jawa, biasanya digambarkan sebagai penyebaran yang bersifat damai. Dengan kata lain, Islam tersebar di wilayah ini tanpa melalui peperangan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan Asia Tengah. Penyebaran yang damai ini dilihat oleh sebagian orang sebagai hal yang positif, karena membantu terbentuknya karakteristik Islam yang cenderung damai dan toleran. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai kelemahan. Pola dakwahnya yang cenderung kurang tegas dalam aspek aqidah dianggap telah menyebabkan banyaknya percampuran nilai-nilai lokal yang tidak Islami dengan nilai-nilai dan praktek agama Islam.

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya memang dilakukan oleh para pedagang Muslim yang melakukan aktivitas perdagangan hingga ke wilayah ini. Karena mereka bukan merupakan ulama atau dai yang mengkhususkan diri untuk menyebarkan Islam, maka perkembangan Islam di Nusantara pada awalnya juga berlangsung relatif lambat. Walaupun para pedagang dari Timur Tengah telah melalui Selat Melaka sejak sebelum munculnya Islam di Jazirah Arab, Islam tersebar di Nusantara dalam waktu yang relatif lambat. Hal ini disebabkan faktor jarak yang jauh antara pusat pertumbuhan Islam di Jazirah Arab dengan wilayah Nusantara. Sebagaimana Geoffrey Blainey menggambarkan betapa tirani jarak (tyranny of distance) telah membentuk sejarah negerinya, Australia, tirani jarak juga sebetulnya ikut membentuk sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

Terlepas dari jarak yang jauh dan lambatnya perkembangan Islam di Nusantara, secara bertahap dan pasti pengaruh agama ini semakin kuat dan meluas di Nusantara. Keberadaan para pedagang Muslim diterima dengan baik oleh para penguasa dan masyarakat kerajaan Hindu-Budha di Nusantara. Sejak abad ke-7 pesisir Sumatera telah memiliki sebuah pemukiman Arab Muslim, dan sebagian dari pedagang ini melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan setempat (Azra, 1994: 29). Seiring dengan semakin berkembangnya komunitas Muslim di wilayah ini, pada gilirannya muncul dan berkembang juga kerajaan Islam di Sumatera.

Pola yang hampir sama berlangsung juga di Pulau Jawa, walaupun dalam waktu yang lebih lambat dibandingkan dengan Sumatera. Daya tarik perdagangan dan interaksi dengan para pedagang Muslim dari luar mendorong para penguasa kota-kota kecil di pesisir Jawa masuk Islam dan mengarahkan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama (Taylor, 2005: 157-8). Di Pulau Jawa, wilayah pesisir yang merupakan simpul-simpul perdagangan regional dan internasional menjadi wilayah yang paling kuat dan menonjol Islamnya (Bosquet, 1940: 1).

Perkembangan Islam menjadi semakin kuat dengan datangnya para ulama dan dai yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam. Kebanyakan ulama dan dai ‘profesional’ yang datang ke Nusantara ini adalah dari kalangan penganut tasawuf. Para dai ‘profesional’ ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Kedatangan orang-orang yang mengkhususkan diri dalam penyebaran Islam ini menyebabkan proses Islamisasi di Nusantara mengalami percepatan yang signifikan antara abad ke-12 dan ke-16 (Azra, 1994: 31). Penyebaran Islam yang semakin pesat serta kemunduran yang dialami oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Budha pada gilirannya mendorong terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam lokal. Beberapa waktu kemudian, kerajaan-kerajaan Islam berkembang semakin pesat, sementara kerajaan-kerajaan Hindu-Budha terus mengalami kemunduran dan akhirnya lenyap dari sebagian besar wilayah Nusantara.

Bersamaan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam, penyebaran Islam di Nusantara memasuki fase baru, yaitu politik dan militer. Walaupun aktivitas militer atau jihad berjalan beriringan dengan, dan barangkali tidak lebih dominan dibandingkan, penyebaran melalui dakwah dan pengajaran, aktivitas ini memiliki peranan yang cukup penting untuk diperhatikan. H.J. de Graaf menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara terjadi melalui tiga cara yang berlangsung secara kronologis. Yang pertama adalah penyebaran melalui perdagangan (by the course of peaceful trade). Yang kedua melalui dakwah para dai dan kaum sufi (by preachers and holy men). Yang ketiga melalui kekuatan dan peperangan (by force and the waging of war) (de Graaf, 1970: 123-4)

Untuk kasus di Jawa misalnya, penyebaran Islam melalui kekuatan militer telah terjadi sejak awal keberadaan kerajaan Islam di wilayah itu, dalam hal ini Kerajaan Demak.

Hal ini terjadi kurang lebih pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Namun cara-cara militer ini tidak dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat penyebaran Islam, melainkan karena adanya ancaman dari kerajaan lain. Pada masa itu, Kerajaan Padjadjaran yang menganut Hindu berusaha menghalangi penyebaran Islam di wilayahnya dengan cara membatasi para pedagang Muslim yang datang ke kota-kota pelabuhan yang dikuasainya. Selain itu, Padjadjaran juga berusaha menjalin kerjasama dengan pihak Portugis yang sejak tahun 1511 telah menguasai wilayah Malaka. Dalam salah satu perjanjiannya, Kerajaan Padjadjaran berjanji memberi bantuan lada setiap tahunnya kepada Portugis dan memberi mereka ijin untuk membangun sebuah benteng di wilayah kerajaannya. Sebagai imbalannya, Portugis diminta membantu Padjadjaran secara militer jika yang terakhir ini mendapat serangan dari Kerajaan Demak atau yang lainnya.

Adanya perjanjian ini dilihat oleh Demak sebagai sesuatu yang akan membahayakan eksistensi Islam di Jawa dan Nusantara. Mereka sudah melihat apa yang telah dilakukan Portugis terhadap Kerajaan Malaka. Karenanya Demak tidak ingin hal yang sama juga terjadi di Pulau Jawa. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Demak memutuskan untuk mengambil alih pesisir Utara Padjadjaran. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan pembatasan terhadap para pedagang Muslim yang hendak berniaga di sana dan juga untuk menutup peluang masuknya Portugis ke wilayah itu.

Pada tahun 1524-1525, Sultan Demak, Trenggana, mengutus Sunan Gunung Jati dengan membawa pasukan menuju ke wilayah Banten yang ketika itu merupakan wilayah bawahan Padjadjaran. Penguasa Banten ternyata menerima kedatangan Sunan Gunung Jati dan membantu proses Islamisasi di wilayah itu. Pada tahun berikutnya Banten menjadi kerajaan bawahan Demak.

Langkah selanjutnya yang diambil adalah usaha menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang paling menonjol di wilayah kekuasaan Padjadjaran pada masa itu. Serangan terhadap Sunda Kelapa dilakukan pada tahun 1527 di bawah kepemimpinan Fatahilah yang merupakan menantu Sunan Gunung Jati. Bersama sejumlah hampir 1.500 tentara, Fatahilah berhasil merebut kota pelabuhan itu dari tangan Padjadjaran. Sejak itu, nama Sunda Kelapa berganti menjadi Jayakarta yang merupakan cikal bakal kota Jakarta (Zakaria, 2010: 34-40).

Sejarah di atas menjelaskan beberapa hal kepada kita. Jihad dan tindakan militer tidak hanya berlaku pada proses penyebaran Islam di Nusantara, tetapi juga secara langsung melibatkan tokoh ulama dan wali yang menonjol. Peran Sunan Gunung Jati dan menantunya dalam pembebasan Banten dan Sunda Kelapa menjadi contoh yang nyata untuk ini. Walaupun para wali dan ahli tasawuf biasanya lebih banyak dihubungkan dengan dunia ibadah dan akhlak, ternyata hal itu tidak menghalangi mereka dari aktivitas politik dan militer.

Bagaimanapun, perlu juga disadari bahwa jihad dan aktivitas militer tidak serta merta dilakukan oleh para pemimpin Muslim pada masa itu. Walaupun syariat jihad telah ada dalam Islam sejak lebih dari delapan abad sebelumnya, komunitas Muslim tidak melakukan agresi militer atau sikap memerangi terhadap pihak yang memusuhi melainkan setelah adanya kondisi tertentu. Mereka mengambil langkah itu ketika keadaan menuntut mereka untuk melakukannya, yaitu adanya bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Selain itu, peranan militer baru dilakukan ketika sudah adanya suatu kerajaan Islam dan kerajaan tersebut memiliki perimbangan kekuatan dengan kerajaan lain yang mengancamnya. Jadi hal tersebut tidak dilakukan secara sporadis tanpa mempertimbangkan peta kekuatan yang ada serta tuntutan untuk melakukannya.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Islam telah berkembang dengan pesat di Nusantara melalui tahap pembentukan kekuatan ekonomi, pembangunan kekuatan spiritual dan keilmuan, dan pada akhirnya perwujudan kekuasaan politik dan jihad (militer). Namun tampaknya pada masa-masa belakangan ini, dua aspek yang awal, yaitu kekuatan ekonomi dan spiritual, cenderung diabaikan oleh masyarakat Muslim di Nusantara. Yang menjadi perhatian utama tinggal yang terakhir saja. Itu pun mungkin tanpa diiringi dengan pengertian yang tepat serta strategi yang jitu. Wallahu a’lam.*/Kuala Lumpur, 12 Jumadil Akhir 1432/ 15 Mei 2011

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII
dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia
. Bandung:
Mizan. 1994.
Bousquet, G.H. A French view of the Netherlands Indies. London: Oxford University
Press. 1940
de Graaf, H.J. “South-East Asian Islam to the eighteenth century,” dalam P.M. Holt, Ann
K.S. Lambton and Bernard Lewis (eds.). The Cambridge History of Islam, vol. 2.
Cambridge: Cambridge at The University Press. 1970).
Taylor, Jean Gelman. “The Chinese and the early centuries of conversion to Islam in
Indonesia,”
dalam Tim Lindsey and Helen Pausacker (eds.). Chinese Indonesians:
Remembering, distorting, forgetting. Singapore: Institute of Southeast Asian
Studies. 2005.
Zakaria, Mumuh Muhsin. Priangan Abad ke-19 dalam Arus Dinamika Sosial-Ekonomi.
Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, tidak
dipublikasikan. Bandung. 2010.

UJIAN 4 NYAWA

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.